Dasar Injil: Sebuah Introduksi Apostolik – Paul Washer. Post by: Yohanes Tarigan

Dasar Injil : Sebuah Introduksi Apostolik – Paul Washer

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu– kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (1 Korintus 15:1-4)
Seorang penulis atau pengkotbah akan kesulitan untuk membuat sebuah introduksi Injil Yesus Kristus yang lebih baik dibandingkan introduksi yang dibuat oleh rasul Paulus di atas kepada jemaat di Korintus. Dalam beberapa baris kata dia memberikan kepada kita sebuah kebenaran yang cukup untuk kita hidupi seumur hidup kita dan membawa kita pulang kepada kemuliaan. Hanya Roh Kudus yang dapat memampukan seseorang menulis dengan begitu padat dan jelas hanya dalam tulisan yang cukup singkat.
Sebuah Injil bagi semua orang
Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil …(1 Korintus 15:1)
Dalam kalimat yang sederhana ini, kita menemukan sebuah kebenaran yang harus digali kembali oleh setiap kita. Injil bukan hanya sebagai introduksi kepada kekristenan. Tapi injil adalah pesan dari kekristenan dan bukan hanya sarana kepada keselamatan tapi juga sarana untuk pengudusan yang terus menerus bagi orang orang kristen yang paling dewasa.
Rasul Paulus telah memberitakan injil kepada orang orang ini! Dia adalah bapak rohani mereka! Namun demikian dia melihat kebutuhan yang terbesar adalah untuk terus mengajarkan injil kepada mereka, tidak hanya untuk mengingatkan kepada mereka unsur esensial dari injil, tetapi juga untuk memperluas pengetahuan mereka tentang injil. Pada saat pertobatan mereka, mereka sebenarnya baru memulai sebuah perjalanan untuk memahami kemuliaan Allah yang dinyatakan dalam injil Yesus Kristus, sebuah perjalanan yang akan di lakukan sepanjang hidup mereka dan yang akan terus berlanjut sepanjang kekekalan.
Kalau kita kembali melihat sepanjang sejarah kekristenan, kita melihat pria dan wanita yang mempunyai hasrat yang luar biasa bagi Allah dan kerajaan-Nya. Kita ingin seperti mereka, dan kita heran bagaimana caranya mereka bisa mempunyai api yang menyala nyala bagi Allah. Saya telah mempelajari kehidupan beberapa dari mereka, dan saya menemukan satu kesamaan di antara mereka. Mereka semua tampaknya telah melihat sekilas kemuliaan injil dan keindahan injil membakar hasrat mereka dan menggerakan hidup mereka. Hasrat yang sejati dan terus menerus yang ada dalam hidup mereka berasal dari sebuah pemahaman yang terus meningkat dan semakin dalam atas apa yang telah Allah lakukan bagi umat-Nya dalam Pribadi dan karya Yesus Kristus!
Sekarang ini, begitu banyak konferensi (seminar, KKR) dan semacamnya yang diadakan bagi anak anak muda yang di rancang untuk membakar gairah mereka melalui fellowship. musik, pembicara pembicara yang fasih dan kisah kisah emosional dan ajakan yang bersemangat. Namun demikian seringkali kegairahan apapun yang mereka ciptakan akan lenyap dengan cepat. Pada akhirnya, api kecil yang ada di hati hati yang kecil akan padam dalam beberapa hari saja. Kita telah melupakan gairah yang sejati, gairah yang sejati lahir dari sebuah pengetahuan akan kebenaran dan khususnya kebenaran injil. Semakin seseorang memahami keindahannya, semakin seseorang akan tertawan oleh kuasanya. Sekilas saja seseorang yang telah dilahirkan kembali melihat sedikit keindahan injil, keindahan tersebut akan menggerakan dia untuk mengikuti Kristus. Lebih besar lagi keindahan injil yang dia lihat akan semakin mempercepat langkahnya lagi dengan berani untuk merebut hadiah injil. Untuk keindahan seperti ini, hati seorang kristen yang sejati tidak dapat menolaknya. Inilah kebutuhan terbesar saat ini! Inilah yang terhilang dari kekristenan kita – mengkotbahkan injil.

Sebuah Injil untuk di kotbahkan

… yang aku beritakan kepadamu, (1 Korintus 15:1)
Kelihatannya dari kotbah kotbah yang dikotabhkan sekarang, kotbah yang berapi api sudah menjadi kuno. Kotbah seperti itu menurut banyak orang, kurang halus dan kurang pintar, agar kotbah tersebut bisa efektif di era modern ini. Pengkotbah yang berapi api yang mengkotbahkan kebenaran dengan berani dan tidak secara apologetik (memakai logika) akan di anggap sebuah hambatan bagi orang orang di era post-modern ini yang menyukai sedikit kerendahan hati dan mempunyai keterbukaan terhadap sudut pandang lain. Kebanyakan argumen yang mereka katakan adalah bahwa kita hanya harus mengubah cara kita berkotbah karena cara kita berkotbah terlihat bodoh bagi dunia ini sekarang
Dengan sikap seperti itu terhadap kotbah adalah bukti bahwa komunitas injili kita telah kehilangan bantalan peluru untuk memberitakan injil. Adalah Allah yang telah menetapkan “oleh kebodohan pemberitaan injil” menjadi sarana membawa pesan keselamatan kepada dunia. Ini tidak berarti bahwa kotbah itu harus bodoh, tidak logis atau aneh, tapi standar semua kotbah harus dibandingkan dengan kitab suci dan bukan dibandingkan dengan opini opini kontemporer dari sebuah kultur yang telah rusak dan hancur yang menganggap dirinya bijak.
Teori yang selalu digunakan adalah bahwa di kultur kita sekarang ini tidak dapat mentoleransi tipe kotbah yang begitu efektif pada waktu kebangunan rohani yang besar di zaman dahulu. Kotbah George Whitefield, John Wesley dan kotbah kotbah yang dikotbahkan para pengkotbah lain yang tipe kotbahnya sama dengan mereka akan di ejek, di kecam, di tertawakan dan di cemooh oleh manusia modern. Namun demikian teori ini juga akan di anggap gagal karena para pengkotbah ini ternyata juga di ejek dan di kecam oleh orang orang di zamannya! Pemberitaan injil yang sejati akan selalu berupa “kebodohan” bagi setiap kultur. Setiap upaya untuk meniadakan keofensifan pemberitaan (kotbah) dan membuat kotbah menjadi “cocok” akan melemahkan kuasa injil. Teori ini juga tidak sesuai dengan tujuan Allah, yang mana Allah telah menentukan kotbah adalah sebagai sarana untuk menyelamatkan manusia –
sehingga harapan manusia tidak terletak pada kotbah yang halus, fasih dan penuh hikmat dunia tapi pada kuasa Allah.
Kita hidup di sebuah kultur yang tercemar oleh berlimpahnya dosa. Cerita cerita moral, pepatah pepatah kuno dan pelajaran pelajaran hidup yang dibagikan seorang pengkotbah yang kita sukai tidak akan mempunyai kekuatan untuk melawan kegelapan di kultur kita. Kita membutuhkan para pengkotbah yang mengkotbahkan injil Yesus Kristus, yang mengerti kitab suci dan di beri kesanggupan oleh anugerah Allah untuk menghadapi setiap kultur dan berseru, “beginilah firman Tuhan”

Sebuah Injil untuk diterima

… dan yang kamu terima (1 Korintus 15:1)
Untuk manusia di selamatkan, injil harus diterima. Namun demikian apa artinya untuk “menerima” injil! Tidak ada sesuatu yang luar biasa dengan kata “menerima” dalam bahasa Inggris ataupun dalam bahasa aslinya yaitu bahasa Yunani, tapi dalam konteks injil kata menerima menjadi luar biasa dan salah satu kata yang paling radikal di kitab suci
Pertama, ketika dua hal berlawanan atau bertolak belakang satu sama lainnya, untuk menerima yang satu adalah untuk menolak yang lain. Semenjak tidak ada persamaan atau persahabatan apapun antara injil dan dunia, untuk “menerima’ injil adalah “menolak” dunia. Apa yang ditunjukkan di sini memperlihatkan betapa radikalnya tindakan untuk menerima injil itu. U ntuk menerima dan mengikuti panggilan injil adalah untuk menolak semua yang dapat dilihat oleh mata dan dapat di pegang oleh tangan untuk menukarnya dengan apa yang tidak bisa dilihat. Menerima injil adalah menolak otonomi pribadi, mempunyai hak untuk memerintah atas dirinya sendiri, untuk menjadi budak dari Seorang “Mesias” yang mati dua ribu tahun lalu di kenal sebagai Seorang musuh negara dan Seorang yang menghujat (Yohanes 10:33). Menerima injil adalah untuk menolak mayoritas dengan segala pandangannya untuk bergabung dengan minoritas yang di caci maki dan kelihatannya tidak signifikan yang di sebut gereja. Untuk menerima injil adalah untuk mempertaruhkan segalanya dalam hidup yang cuma sekali dan satu satunya ini dan percaya bahwa Nabi yang ditusuk ini adalah Putra Allah dan Juruselamat dunia.
Kedua, bagi seseorang untuk “menerima injil” adalah percaya secara eksklusif dalam Pribadi dan karya Yesus Kristus di kayu salib sebagai satu satunya jalan untuk bisa menjadi benar di hadapan Allah. Ada sebuah pepatah umum yang mengatakan untuk mempercayai sesuatu secara eksklusif adalah berbahaya atau paling tidak itu adalah sebuah hal yang sangat tidak bijaksana untuk dilakukan. Seseorang akan di anggap ceroboh untuk tidak mempunyai rencana cadangan, untuk tidak memiliki sebuah jalan keluar alternatif, untuk tidak mendiversifikasi investasinya at au menaruh telor dalam satu keranjang yang sama dan membakar semua jembatan di belakangnya. Namun inilah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang menerima Yesus Kristus. Iman kristen adalah eksklusif. Untuk menerima Kristus dengan benar adalah membuang semua harapan lain tapi hanya berharap kepada Kristus saja. Untuk alasan inilah rasul Paulus berkata orang kristen adalah orang yang paling malang kalau Kristus
tidak dibangkitkan. Untuk menerima injil bukan hanya mengucapkan sebuah doa meminta Tuhan Yesus untuk masuk kedalam hatinya, tapi untuk membuang dunia dan merangkul janji tentang kepenuhan Kristus.
Untuk “menerima injil” berarti memberikan diri seseorang kepada Ketuhanan Yesus Kristus. Hal ini sangat berbeda dengan maksud penginjilan kontemporer y ang mengarahkan orang orang untuk “membuat Yesus Tuhan”. Apa yang harus kita mengerti adalah Yesus ADALAH Tuhan dari setiap orang. Kitab suci mengatakan Allah bahwa Allah telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus. Dia yang telah melantik raja-Nya di Sion, gunung-Nya yang kudus dan mengolok ngolok orang orang yang melawan Dia. Allah tidak menyuruh manusia untuk membuat Yesus sebagai Tuhan mereka, tapi Allah memerintahkan manusia untuk hidup dalam ketaatan penuh kepada Yesus yang telah dijadikan Tuhan.
Mereka yang menerima injil dan dengannya Yesus adalah Tuhan, akan melakukan suatu hal yang sangat berbahaya tetapi sangat bijaksana. Berbahaya seperti di sini seperti singa yang bernama Aslan di Novel Narnia karya C.S Lewis. Dia bukan singa yang jinak, dia berbahaya. Dia memiliki hak untuk meminta apapun dari mereka yang memanggilnya tuan, tapi dia baik dan layak untuk di percayai dengan sukacita. Adalah hal yang sama dengan Yesus, Dia yang memanggil orang orang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya, Dia juga boleh meminta segala yang mereka miliki dan mengutus mereka untuk mengorbankan hidup mereka bagi tujuan-Nya di dunia yang sudah jatuh dan gelap ini.
Untuk menerima ini dan Yesus sebagai Tuhan adalah sebuah hal yang paling bijaksana. Apakah yang lebih masuk akal daripada mengikuti Pencipta yang Mahakuasa dan Pemelihara alam semesta, yang mengasihi umat-Nya dengan sebuah kasih yang kekal, menebus mereka dengan darah-Nya sendiri dan mendemontrasikan komitmen-Nya yang tanpa kompromi terhadap setiap janji yang telah Dia ikrarkan? Walaupun Dia tidak seperti yang di ungkapkan di atas dan semua kebaikan ini tidak ada di dalam Dia, tetap akan menjadi suatu hal paling bijaksana untuk mengikuti Dia karena siapa yang dapat menolak kehendak-Nya? Karena alasan ini dan begitu banyak alasan lainnya rasul menasihatkan kita supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah dan menyebutnya sebagai ibadah yang sejati atau ibadah yang rohani.
Untuk menerima injil berarti menurunkan dunia dan diri sendiri dari tahkta hati kita dan Kristus menjadi episenter kita yang baru! Dia menjadi sumber, tujuan, sasaran dan motivasi dari seluruh keberadaan kita dan apa yang kita lakukan. Saat seseorang menerima injil, segenap kehidupannya mulai di jalani dalam konteks yang berbeda dan konteks itu adalah Kristus. Meskipun tanda tanda lahiriah pada saat pertobatan sejati mungkin kurang dramatis, tapi efek bertahap dari pertobatan sejati itu akan menjadi monumental. Seperti sebuah batu kerikil yang di lempar ke tengah danau, efek riak injil akhirnya akan mencapai batas sekeliling kehidupan orang kristen dan menyentuh setiap pantainya.
Akhirnya, untuk menerima injil adalah untuk menjadikan injil itu sebagai satu satunya sumber kelangsungan hidup seseorang. Kristus tidak dapat di terima sebagai “sebuah bagian” dari kehidupan seseorang ataupun tambahan untuk semua hal baik lainnya yang telah di miliki seseorang tanpa Dia. Dia bukan semacam aksesoris tambahan yang menghiasi hidup kita dan membuat hidup kita kelihatan lebih baik. Di dalam kita menerima injil, Dia menjadi hidup kita. Dalam Yohanes 6:53, Yesus berkata,
“sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.” Dalam Mazmur 34:8 Daud berseru, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu!” untuk menerima Kristus ke dalam hidup kita artinya adalah Dia tidak hanya menjadi Makanan yang memelihara kelangsungan hidup kita, tapi juga sebuah Makanan yang sangat istimewa yang membuat kita bergirang.

Sebuah injil yang di dalamnya kita teguh berdiri

… yang di dalamnya kamu teguh berdiri.(1 Korintus 15:1)
Dalam teks yang kita baca, rasul Paulus mengatakan kepada kita bahwa injil tidak hanya untuk di terima, tapi juga sebuah kebenaran yang di dalamnya kita teguh berdiri. Kenyataannya, untuk berdiri teguh dalam kebenaran injil adalah bukti bahwa seseorang telah menerima injil dengan benar. Yakobus mengatakan kepada kita iman yang sejati itu di sertai perbuatan. Di sini, rasul Paulus mengajarkan kepada kita bahwa iman yang sejati itu menghasilkan pertobatan yang mempengaruhi kehendak dan sikap kita. Seseorang yang sungguh sungguh telah menerima injil ini, berdiri di atas kebenarannya, menjalani hidupnya berdasarkan kebenaran injil. Di dalam perkataan Tuhan Yesus kristus, seseorang yang telah mendengar dan menerima injil mungkin dapat di ibaratkan seperti “orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”
Rasul Paulus punya alasan yang cukup kuat untuk berharap setidaknya ada beberapa orang di gereja Korintus merupakan orang orang kristen yang sejati karena kenyataannya mereka berdiri teguh dalam kebenaran injil. Ada juga yang lain yang mengindentifikasikan diri mereka dengan gereja yang sama dan menyita perhatian Paulus dengan cukup besar dan Paulus memperingatkan kepada mereka untuk menyelidiki dan menguji diri mereka, apakah mereka tetap tegak di dalam iman. Adalah hal mudah untuk membuat sebuah pengakuan kekristenan; tapi untuk memvalidasi pengakuan kristen seseorang adalah hal yang sangat berbeda. Seseorang bisa saja berkata bahwa dia telah “menerima injil” tapi tetap pertanyaan adalah, “apakah dia berdiri teguh di dalam injil?” yang terakhir merupakan bukti dari awal.
Untuk menyatakan bahwa dalam penerimaan injil akan menghasilkan pertobatan injil yang sejati, bukan berati bahwa seorang kristen baru akan langsung dewasa rohani dan orang orang kristen yang dewasa rohani tidak pernah bergumul. Bahkan orang orang yang paling saleh di antara kitapun penuh kegagalan dalam perjuangannya melawan dosa. Bagaimanapun di tengah tengah pergumulan mereka, pergumulan itu merupakan bukti bahwa mereka mempunyai sebuah keyakinan yang teguh kalau injil itu adalah benar dan mereka menunjukan sebuah tekad untuk berdiri di atas kebenaran injil tersebut. Meskipun pertempuran melawan dosa itu seperti tidak seimbang dan bahkan mereka jatuh, tapi secara keseluruhan hidup mereka, kita melihat mereka berdiri teguh! Mereka berdiri karena Allah membuat mereka berdiri. Mereka telah dilahirkan kembali oleh Roh Allah dan Roh itu ada dalam hidup mereka. Meskipun mereka berperang melawan dosa dan daging mereka yang lemah, sebuah pertobatan sejati yang memimpin kepada kebenaran adalah buktinya.

Sebuah Injil yang olehnya kita diselamatkan

… oleh Injil itu kamu diselamatkan, (1 Korintus 15:2)
Janji terbesar dari injil adalah keselamatan. Setiap janji lain dan setiap manfaat lain yang diperoleh menjadi tidak ada artinya jika dibandingkan satu hal ini – karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Menurut 1 Petrus1:9 keselamatan adalah tujuan iman orang kristen, keselamatan adalah akhir dari tujuan dari semua yang telah Kristus lakukan. Keselamatan adalah kerinduan terbesar orang kristen sejati dan akhir dari segala yang di perjuangkannya. Allah tidak dapat memberikan pemberian yang lebih besar dan orang kristen tidak bisa mempunyai harapan atau motivasi yang lebih besar selain keselamatan melalui injil Yesus Kristus.
Karunia keselamatan bahkan lebih berharga lagi bagi kita saat kita menyadari siapa sebelumnya kita di hadapan Kristus dan apa layak kita dapatkan sebagai orang berdosa. Natur kita adalah pendosa, perbuatan kita menunjukan kalau kita pendosa dan kita sudah rusak sampai titik bejat. Kita semua adalah pelanggar hukum dam penjahat tanpa terkecuali atau dengan dalih apapun di hadapan tahkta keadilan Allah. Kita layak menerima tidak kurang dari apapun dari yang namanya hukuman kekal, tapi sekarang kita di selamatkan melalui darah Putra Allah. Karena waktu kita masih lemah dan menjadi musuh Allah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka. Melalui Dia, kita yang jauh menjadi dekat, melalui darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,
Kita telah di selamatkan dari dosa kita, diperdamaikan dengan Allah dan dibawa masuk kedalam persekutuan dengan Dia sebagai anak anak Allah! Apa lagi yang lebih dapat kita harapkan, apa lagi yang lebih kita butuhkan? Bukankah karunia keselamatan melalui darah Anak-nya cukup untuk memenuhi hati kita dengan sukacita yang berlimpah dari kekekalan menuju kekekalan? Bukankah itu cukup untuk memotivasi kita untuk hidup bagi Dia yang telah mati bagi kita? Janji lain apalagi yang kita butuhkan? Akankah kita lebih sungguh sungguh hidup bagi Dia karena Dia tidak hanya menjanjikan keselamatan, tapi juga karena Dia menjanjikan kesembuhan, kenyamanan hidup, kemakmuran dan kehormatan? Apa artinya hal hal itu jika dibandingkan dengan karunia keselamatan dan pengenalan akan Dia? Menjauhlah dari mereka yang berusaha membujuk kita untuk beribadah kepada Tuhan dengan menjanjikan kepada kita sesuatu yang lain selain Yesus Kristus. Jika setiap orang yang mengasihi kita tidak mengasihi kita lagi, walau tubuh kita membusuk dalam tempat pembuangan sampah, dan kita fitnah baik oleh teman dan musuh, kita akan tetap menemukan semua sumber pengabdian kita kepada-Nya, alasan untuk kita tetap mengasihi, memuji dan melayani Dia adalah satu hal ini – Dia telah mencurahkan darah-nya bagi diri kita. Ibadah yang murni dan tak bercacat di gerakan oleh satu hasrat yang kudus ini.
Apa sebabnya janji keselamatan kekal saja kelihatannya tidak cukup mempunyai kuasa untuk menarik manusia kepada Kristus? Mengapa manusia modern lebih tertarik tentang bagaimana injil dapat menolong mereka dalam kehidupan sekarang ini? Sebab pertama karena para pengkotbah tidak lagi berkotbah tentang hari penghakiman yang akan datang dan bahaya neraka. Ketika hal hal ini di kotbahkan secara alkitabiah dan jelas, manusia mulai melihat kebutuhan mereka yang terbesar adalah
untuk di selamatkan dari penghukuman kekal dan kebutuhan untuk kotbah menjadi “lebih praktis” lagi di zaman sekarang ini akan menjadi hal sepele yang tidak artinya dibandingkan kebutuhan untuk berkotbah tentang penghakiman dan bahaya neraka. Manusia modern hanya mempunyai sedikit ketertarikan tentang hal hal rohani dan kekekalan. Kebanyakan mereka lebih suka menghadiri sebuah konferensi mengenai membangun harga diri dan pengembangan diri daripada mendengarkan satu kotbah tentang pengudusan, yang tanpa hal itu tidak seorang pun dapat melihat Allah.
Meskipun adalah benar bahwa injil dapat dan selalu memperbaiki kehidupan dan keadaan seseorang, sebagai pelayan injil, kita harus menghindari godaan untuk menarik para pendengar dan jemaat dengan janji atau penopang apapun selain Yesus Kristus dan kehidupan kekal. Meskipun hal itu akan lebih dari radikal di dalam penginjilan modern sekarang, kita akan tetap berseru kepada orang banyak, “Yesus Kristus menjanjikan kepada anda dua hal : harapan untuk sebuah keselamatan kekal dan sebuah salib untuk kita pikul dan mati bersamanya. Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!”

Sebuah injil untuk kita pegang teguh

… asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. (1 Korintus 15:2).
Doktrin “ketekunan orang orang kudus” adalah salah satu kebenaran paling berharga bagi orang orang kristen yang mengertinya. Doktrin itu memberikan sebuah penghiburan yang besar dan menguatkan kita untuk mengetahui bahwa Dia yang memulai pekerjaan baik dalam kita akan meneruskannya sampai pada akhirnya. Bagaimanapun, doktrin ini telah begitu di selewengkan dan telah menjadi sebuah instrumen utama untuk memberikan jaminan keselamatan yang palsu kepada orang orang yang tidak terhitung banyaknya, orang orang yang belum bertobat dan masih hidup dalam dosa mereka.
Dalam ayat di atas, rasul Paulus menulis,”… kamu diselamatkan, ASAL kamu teguh berpegang padanya …” kata “asal” menunjukan adanya sebuah klausul bersyarat yang tidak boleh kita abaikan dan hilangkan. Seseorang selamat “asal” dia teguh berpegang pada injil, tapi “asal” dia tidak berpegang teguh, dia tidak selamat. Ini bukan mengingkari doktrin ketekunan orang orang kudus, melainkan sebuah penjelasan dari doktrin tersebut. Tidak seorangpun yang sungguh sungguh percaya dan diselamatkan akan terhilang di kebinasaan kekal. Kasih karunia dan kuasa Allah yang menyelamatkan mereka juga akan menjaga mereka sampai akhir hidup mereka, tetapi bukti kalau mereka sungguh sungguh percaya adalah kalau mereka terus bertumbuh secara rohani dan tidak berbalik dari-Nya. Meskipun mereka masih bergumul melawan daging dan ditaklukkan oleh banyaknya kegagalan mereka, keseluruhan perjalanan kehidupan mereka akan memperlihatkan sebuah kemajuan yang penting dan nyata, baik dalam iman maupun dalam kesalehan. Ketekunan mereka tidak menyelamatkan mereka atau membuat mereka menjadi obyek anugerah, tapi mengungkapkan kalau mereka adalah obyek anugerah yang hanya di selamatkan oleh iman. Untuk membuatnya lebih jelas, bukti atau validasi dari pertobatan yang sejati adalah bahwa orang yang mengaku memiliki iman dalam Kristus akan terus bertekun dalam iman dan terus bertumbuh dalam kekudusan sepanjang kehidupannya. Jika seseorang mengaku memiliki iman dalam Kristus tapi dia selalu jatuh dan tidak membuat kemajuan dalam kesalehannya; ini bukan berarti
dia telah kehilangan keselamatannya; hal ini hanya mengungkapkan kalau dia belum pernah bertobat sama sekali.
Kebenaran ini memiliki implikasi luar biasa yang jauh jangkauannya bagi banyak mereka yang mengaku memiliki iman di dalam Kristus. Berapa banyak orang di luar sana dan di bangku gereja yang percaya kalau mereka sudah “di selamatkan” dan merasa diri mereka benar benar “kristen” karena pada suatu waktu mereka pernah mengucapkan sebuah doa untuk meminta Tuhan Yesus masuk kedalam hati mereka? Hidup mereka tidak pernah berubah, mereka tidak memiliki bukti kalau kasih karunia Allah ada dalam kehidupan mereka dan walaupun demikian mereka sangat yakin dengan keselamatan mereka karena sebuah keputusan (doa minta agar Tuhan Yesus masuk dalam hati) yang mereka lakukan di masa lalu dan keyakinan mereka adalah kalau doa mereka saat itu tulus. Tidak peduli bagaimana populernya kepercayaan tentang doa meminta Tuhan Yesus masuk ke dalam hati, tidak ada satu landasan pun di alkitab yang mendukung hal itu.
Adalah benar bahwa pertobatan terjadi pada saat tertentu ketika seseorang berpindah dari dalam maut ke dalam hidup melalui iman dalam Yesus Kristus. Bagaimanapun, jaminan alkitabiah bahwa seseorang berpindah dari dalam maut ke dalam hidup tidak hanya berdasarkan sebuah ujian yang dilakukan pada saat pertobatan, tapi merupakan sebuah ujian yang dilakukan terhadap hidup seseorang dari awal pertobatannya sampai akhir hidupnya. Di tengah tengah begitu banyaknya keduniawian, rasul Paulus tidak meminta supaya jemaat di Korintus mengevaluasi kembali pertobatan mereka di masa lalu, tapi meminta mereka untuk menguji kehidupan mereka pada saat sekarang. Kita sebaiknya mengikuti jejak Paulus dalam memberikan konseling bagaimana orang orang yang bertobat itu seharusnya. Mereka harus mengetahui dan kita harus mengajar mereka bahwa bukti sejati karya keselamatan Allah di masa lalu adalah karya keselamatan itu terus berlanjut sampai akhir hidup mereka.

Sebuah injil yang sangat penting

… yang sangat penting … (1 Korintus 15:3)
Tidak ada kata atau kebenaran yang lebih penting daripada injil Yesus Kristus. Kitab suci penuh dengan banyak pesan. Kebenaran yang “paling kecil” diantara kebenaran kebenaran yang ada kitab suci jauh lebih berharga dibandingkan semua kekayaan dunia dan lebih penting dibandingkan pemikiran pemikaran terbesar yang pernah ada dalam pikiran manusia. Jika, butiran debu yang paling kecil dari kitab suci lebih berharga daripada emas, bagaimana bisa kita menghitung nilai atau pentingnya injil?
Bahkan dalam kitab suci itu sendiri, pesan injil tidak ada bandingannya. Kisah penciptaan, meskipun dihiasi dengan kemegahan, membungkuk di hadapan pesan salib. Hukum Musa dan perkataan para nabi mengalihkan perhatian dari diri mereka sendiri kepada pesan tunggal penebusan ini. Bahkan kedatangan Kristus yang kedua kalinya, meskipun penuh keajaiban, hanya berdiri dalam bayang bayang injil. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa injil Yesus Kristus adalah satu pesan yang paling besar dan paling penting, acropolis (kota di atas bukit) dari iman kristen dan fondasi dari pengharapan orang
kristen. Tidak ada yang lebih penting, tidak ada yang lebih berguna dan tidak ada yang lebih dibutuhkan untuk mempromosikan kemuliaan Allah dan kerajaan-Nya selain injil Yesus Kristus.
Ini adalah benar, untuk memahami injil adalah obsesi agung yang seharusnya kita miliki. Ini adalah sebuah tugas yang mustahil, dan layak lah kita mengerahkan semua usaha kita untuk memahaminya, karena semua kekayaan Allah dan sukacita bagi semua orang kristen di temukan di dalam pesan injil. Kita perlu menjauhkan diri kita dari setiap kesantaian dan kesenangan yang tidak penting agar kita dapat mengerti kedalaman anugerah Allah yang dinyatakan dalam pesan injil. sebuah ilustrasi yang indah dari gairah seperti itu dapat kita temukan di Ayub 28:1-9
Memang ada tempat orang menambang perak dan tempat orang melimbang emas; besi digali dari dalam tanah, dan dari batu dilelehkan tembaga. Orang menyudahi kegelapan, dan batu diselidikinya sampai sedalam-dalamnya, di dalam kekelaman dan kelam pekat. Orang menggali tambang jauh dari tempat kediaman manusia, mereka dilupakan oleh orang- orang yang berjalan di atas, mereka melayang- layang jauh dari manusia. Tanah yang menghasilkan pangan, dibawahnya dibongkar -bangkir seperti oleh api. Batunya adalah tempat menemukan lazurit yang mengandung emas urai. Jalan ke sana tidak dikenal seekor burung buaspun, dan mata elang tidak melihatnya; binatang yang ganas tidak menginjakkan kakinya di sana dan singa tidak melangkah melaluinya. Manusia melekatkan tangannya pada batu yang keras, ia membongkar-bangkir gunung-gunung sampai pada akar-akarnya;
Bahkan di zaman Ayub yang kuno, ada orang yang bersedia memaksa diri mereka untuk sampai ke batas yang paling dalam, membuat diri mereka tidak terlihat di permukaan, menggali batu yang keras di dalam kekelaman dan kelam yang pekat, mempertaruhkan tubuh dan nyawa mereka, supaya tidak satu pun batu berharga yang terlewat dalam usaha mereka mencari harta di dunia ini. Betapa kita seharusnya lebih daripada mereka, kita yang sudah di terangi oleh Roh Kudus, yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, bersedia meninggalkan segala hal yang kurang mulia untuk mengejar pemahaman akan kemuliaan Allah yang ada dalam Yesus Kristus.
Lalu mengapa sebuah gairah yang sejati untuk injil sangat jarang di temukan di antara umat Allah? Pertama, karena injil yang di kotbahkan sekarang ini telah di reduksi dengan mengerikan, injil yang dibuat menjadi semacam formula untuk menarik orang dengan mudah kepada Kristus. Injil Allah tidak bisa dimuat hanya dalam sebuah traktat, atau di simpulkan dalam beberapa hukum rohani. Adalah baik kalau kita mengerti bahwa Allah mempunyai sebuah rancangan, ketika kita jatuh dalam dosa, Kristus mati dan bangkit agar kita bisa di selamatkan oleh iman, tapi itu hanyalah sebuah permulaan. Pada saat kita menyelidiki alkitab dan memahami kemuliaan injil kita akan menyadari bahwa kita sedang berada dalam sebuah perjalanan yang akan terus kita lanjutkan walau hidup kita sudah berakhir di dunia ini, terus berlanjut sepanjang kekekalan. Dengan setiap kebenaran baru yang kita temukan, kita lebih dan lebih lagi terpesona dengan kemuliaan injil sampai hal itu menguasai seluruh pikiran kita dan menguasai kehendak kita. Kita perlu mengeksplorasi injil jika ingin memiliki gairah injil.
Alasan kedua tentang kurangnya gairah injil adalah karena injil dilihat oleh banyak orang sebagai kekristenan dasar atau seperti seseorang yang baru saja lahir kembali oleh iman di dalam Yesus yang merasa begitu cepat sudah menguasai injil dan sekarang hanya hal hal dalam yang tersisa bagi dia untuk
dipelajari. Tidak ada kebenaran yang lebih dalam lagi! Injil adalah sebuah “hal yang dalam” dari kekristenan! Eskatologi dan rahasia kitab Wahyu akan kita pahami pada waktu kedatangan Kristus yang kedua, tapi pengejaran kita akan kebenaran injil akan terus berlanjut sepanjang kekekalan. Orang orang kristen yang paling hebat sekalipun tidak akan pernah menguasai injil, tapi setiap kristen yang sejati akan di kuasai oleh injil.

Sebuah injil yang diberikan dan disampaikan

… telah kusampaikan kepadamu … yang telah kuterima sendiri (1 Korintus 15:3)
Dalam ayat di atas, kita mempelajari dua kebenaran penting tentang injil – injil itu diberikan dan injil itu juga di sampaikan. Saat rasul Paulus menulis bahwa dia “menerima: injil, dia membuat sebuah klaim tentang pewahyuan khusus. Dia tidak memfabrikasi pesan ini ataupun dia meminjamnya dari orang lain. Melainkan injil itu datang kepadanya melalui sebuah pewahyuan yang luar biasa tentang Yesus Kristus. Di dalam Galatia 1:11-12, Paulus menjelaskan pengalamannya ini dengan lebih rinci :
Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara- saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.
Hanya ada satu injil yang benar. Injil itu lahir dalam hati Allah dan di berikan kepada gereja melalui rasul rasul. Rasul rasul ini dengan inspirasi Roh Kudus memaparkan dengan sangat jelas mengenai isi injil mereka dan keabadiannya. Injil tidak harus dirubah atau disesuaikan untuk dapat di terima oleh berbagai macam kultur atau di terima oleh berbagai zaman, tapi injil itu harus kita pegang teguh sebagai kebenaran mutlak. Kita yang menjadi penerima dan pelayan injil ini sebaiknya mendengarkan nasihat rasul rasul dan memberitakan injil ini dengan sangat berhati hati, bahkan dengan rasa takut. Paulus menasihatkan kita untuk menjaganya sebagai harta yang di percayakan kepada kita, bahkan lebih jauh lagi dia menyampaikan bahwa akan terkutuk baik manusia maupun malaikat yang menyesuaikan pesan injil kepada pemahaman yang sudah terlanjur mendominasi pemikiran sebuah kultur ataupun agama .
Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Galatia 1:8-9)
Setiap generasi kristen harus menyadari bahwa ada sebuah injil “kekal” yang telah diberikan kepada mereka. Dan sebagai pelayannya, adalah tanggung jawab kita untuk mempertahankan injil tanpa penambahan, pengurangan atau modifikasi apapun. Untuk mengubah injil dengan cara apapun, menyampaikan injil yang tidak murni kepada generasi berikutnya sama saja dengan mengutuk jiwa kita sendiri. Untuk alasan inilah rasul Paulus memperingatkan Timotius yang masih muda untuk mau menderita atas kebenaran yang dipercayakan kepadanya, dan menjanjikan kepadanya bahwa dalam melakukan hal tersebut dia akan menyelamatkan dirinya dan semua orang yang mendengarnya.
Kita yang telah menerima injil, mempunyai sebuah kewajiban yang menakutkan untuk menyampaikan injil tersebut. Kewajiban ini bukan hanya terhadap Allah tetapi juga kepada generasi kita dan generasi yang akan datang. Meskipun injil dapat di palsukan dalam waktu yang singkat, tapi gereja membutuhkan waktu bertahun tahun bahkan berabad abad untuk memulihkan kebenaran yang telah di palsukan tersebut. jika sejarah gereja mengajarkan kepada kita sesuatu, sejarah gereja mengajarkan meskipun begitu banyak gerakan sesat dalam kekristenan, ada beberapa reformator yang sejati. Ada sesuatu yang lebih mengerikan di bandingkan sikap kita yang memilih untuk tidak berbuat apa apa sementara dunia yang terhilang sedang meluncur kepada neraka. Yang lebih mengerikan adalah : kejahatan mengkotbahkan injil yang di encerkan, injil yang di sesuaikan agar dapat di terima setiap kultur; injil yang dijadikan semacam formula untuk menarik orang dengan mudah kepada Kristus, kepada orang orang yang terhilang, injil yang mengizinkan mereka secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya, mengakui mengenal Allah tapi menyangkal Dia melalui perbuatan mereka dan memanggil Yesus “Tuhan, Tuhan”, sementara mereka tidak melakukan kehendak Bapa. Celakalah kita, jika kita tidak memberitakan Injil, tapi lebih celaka lagi kalau kita memberitakannya tidak benar!

Sebuah injil untuk dijelaskan

… “bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci.”(1 Korintus 15:3-4)
Injil adalah segalanya dalam kekristenan dan kitab suci, tapi tidak semuanya dalam kekristenan atau kitab suci adalah injil. Kesembuhan fisik, sebuah pernikahan yang baik, dan pemeliharaan Allah, meskipun hal hal itu ada dan mengalir dari injil, tapi hal hal itu bukanlah injil. Injil adalah sebuah pesan yang sangat khusus dalam kitab suci dan ayat diatas diperlihatkan kepada kita dengan sangat jelas dan ringkas. Dalam kalimat singkat tersebut kita dapat menemukan keselamatan dunia ini. Dari teks tersebut kita mengetahui bahwa injil Yesus Kristus bertumpu pada dua pilar utama – kematian dan kebangkitan- Nya. Acuan kepada penguburan-Nya adalah penting untuk dua hal. Pertama hal itu sudah di nubuatkan dan di genapi. Kedua penguburan-Nya memvalidasi kematian-Nya dan meletakkan dasar bagi karya kebangkitan dan kenaikan-Nya. Sebuah perenungan yang mendalam tentang dua kebenaran ini di luar jangkauan dari artikel ini, karena untuk saat ini kita hanya mempunyai satu tujuan dan itu adalah untuk menyadari kebutuhan besar bukan hanya untuk memberitakan kebenaran ini, tapi juga menjelaskannya kepada mereka.
Adalah tugas yang besar bagi penginjil kri sten baik untuk memberitkan injil sebagai pemberita ataupun untuk menjelaskannya sebagai seorang penulis. Di kitab suci banyak terdapat contoh seperti ini. Filipus menjelaskan siapa Kristus kepada sisa sida Etophia melalui nubuatan Yesaya. Priskila dan Akwila membawa Apolos ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. Rasul Paulus menjelaskan kepada orang orang Yahudi di Tesalonika t iga hari Sabat berturut -turut mengenai bagian- bagian dari Kitab Suci. Menerangkannya dan memberikan bukti kepada mereka bahwa Kristus harus
menderita dan bangkit dari antara orang mati.” Akhirnya, ada seorang Ekspositor terbesar yaitu Tuhan kita Yesus Kristus, yang menjelaskan siapa Allah kepada manusia melalui inkarnasi-Nya, dan menjelaskan injil kepada murid murid yang sedang kebingungan di perjalanan menuju Emaus :
Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. (Lukas 24:27)
Kita tidak hanya dipanggil untuk memberitakan kebenaran, tapi juga untuk menjelaskannya kepada para pendengar kita. Kita harus mengatakan kepada mereka bahwa mereka telah berdosa, tapi kita juga harus menjelaskan kepada mereka betapa jahatnya dosa itu dan akibat yang mengerikan darinya. Kita harus memberitakan kematian Kristus, tapi kita juga harus menjelaskan mengapa kematian Kristus diperlukan dan apa yang telah dikerjakan oleh karya kematian Kristus. Kita harus memberitakan kebangkitan dan kenaikan Kristus, tapi kita juga harus menjelaskan apa arti dari semua itu bagi keselamatan kita dan pemerintahan alam semesta ini. Kita harus memberitakan kepada mereka apa yang telah Dia lakukan, tapi kita juga harus menjelaskan kepada mereka apa yang harus mereka lakukan. Bagaimana pemberitaan firman Tuhan di sampaikan adalah penting, tapi hanya pada titik jika pemberitaan Tuhan itu benar dan diaplikasikan dalam hidup pendengarnya. Seperti itulah masalah injil.
.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s