Kerajaan Allah yang radikal: Kekristenan yang konvensional atau Iman yang Alkitabiah? – Art Katz. Post by: Yohanes Tarigan

Kerajaan Allah Yang Radikal : Kekristenan Yang Konvensional Atau Iman Yang Alkitabiah ?Oleh : Art Katz

 

Ada sebuah ketidakpedulian luar biasa di bumi ini sehubungan dengan fakta bahwa planet ini telah dikunjungi oleh Allah. Saya rasa kita perlu mengakui bahwa kita seperti orang tidur yang sedang berjalan, seorang pemabuk; ilah zaman ini telah membutakan pikiran, bukan hanya mereka yang bukan orang kristen, melainkan kita yang juga mengaku Kristen. Dampak dari betapa pentingnya planet ini telah dikunjungi Allah tidak mempenetrasi kedalaman pengertian kita. Saya sangat setuju dengan seorang saudara yang berkata, “kita belum siap untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali, karena kita belum mengerti sepenuhnya makna kedatangan-Nya yang pertama kali”. Tidak seorangpun yang benar benar mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menyengat: ada apa sehingga Allah memilih untuk mengunjungi bumi ini, dan untuk tujuan apa Dia datang ? apa akibat dari kedatangan-Nya, apa artinya bagi kita yang tetap ada di bumi ini ? ini tentu saja lebih dari sekedar rasa keingintahuan dan ketertarikan akan sejarah.

Karena tidak mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan ini, orang-orang melihat sebuah dunia tanpa Allah, dan sekalipun mereka melihat dunia dengan Allah, mereka berpikir Dia tidak melakukan apapun selain menciptakan dunia ini dan meninggalkannya kepada manusia. Dan dunia ini menjadi semacam alam semesta yang bermekanisme melestarikan dan mengabadikan dirinya sendiri, yang mana Allah tidak perlu untuk terlalu serius untuk kita pertimbangkan. Oleh karena itu, adalah tidak mengejutkan bahwa di dalam hal-hal yang paling penting yang sangat mempengaruhi manusia dan bangsa-bangsa, Allah tidak dilibatkan, ataupun dicari supaya kita tahu apa yang menjadi pendapat-Nya. Adalah suatu hal yang luar biasa saat kita membaca sebuah surat kabar seperti majalah Newsweek atau majalah Time, kita melihat bahwa majalah tersebut dipenuhi dengan nasihat-nasihat manusia. Mereka membahas isu-isu peperangan dan perdamaian, dan berusaha memberikan jalan keluar berdasarkan pikiran mereka sendiri, tapi tidak pernah sekalipun ada keterangan atau referensi tentang Allah untuk dipertimbangkan, yang nasihat-Nya bisa dicari, yang kehendak-Nya bisa kita peroleh, atau yang pernah berada disini suatu waktu dan meninggalkan kita sekumpulan pernyataan yang mengatakan bahwa Dia hendak bermaksud memberitahu bagaimana seharusnya bangsa-bangsa dan manusia menyelesaikan masalah mereka.

Ada sebuah ketidakresponan yang menakjubkan terhadap Allah yang menghasilkan penolakan terhadap Allah, Saya berpendapat bahwa gereja bertanggung jawab untuk membiarkan manusia memiliki pandangan seperti itu. Saat kita tiba untuk mengambil sebuah keputusan yang sangat mempengaruhi kehidupan kita, meskipun kita mengatakan kita percaya kepada Allah, cara kita mengambil keputusan hampir sama dengan yang dilakukan oleh dunia. Allah tidak secara radikal dibawa masuk ke dalam pertimbangan kita, kita membuat keputusan-keputusan sendiri tentang pernikahan, dimana kita akan kuliah, bisnis apa yang akan kita jalankan, ataupun hal hal serupa atas dasar dan pertimbangan yang sama dengan dunia-berdasarkan akal sehat, logika, kenyamanan, keadaan sekitar dan keuntungan pribadi.

Dunia menjadi acuh tak acuh terhadap Allah karena kita yang percaya tidak secara radikal membawa Allah ke dalam pertimbangan-pertimbangan kita. Dimana kondisinya sekarang jika kita membawa apapun tentang Allah untuk memberi jalan keluar bagi manusia dianggap sebagai sebuah pelanggaran (umumnya terjadi di Amerika Serikat dan Eropa) Adalah ironis bahwa dunia melontarkan isu tentang pemisahan gereja dan negara, seolah olah entah bagaimana jika negara perlu dilindungi dari gereja. Gereja sama sekali tidak mempunyai suara untuk menyuarakan apapun, untuk mengekspresikan dirinya, untuk memberikan nasihat Allah kepada perkara-perkara sekuler manusia. Mereka mengatakan kalau gereja menyuarakan dirinya atau memberikan nasihat-nasihat Allah kepada perkara-perkara sekuler itu akan melanggar pemisahan gereja dan negara. Tapi mereka sama sekali lupa bahwa pertama kali pemisahan gereja dan negara dilakukan, itu dilakukan bukan untuk melindungi negara tapi untuk melindungi gereja. Allah tidak pernah menginginkan bahwa ada pemisahan antara hal-hal yang kudus dan sekuler seperti yang berlaku sekarang ini. Bahwa ada dua kategori yaitu gereja dan negara. Allah bermaksud yang kudus mempenetrasi yang sekuler, dan gereja adalah instrument yang mana olehnya sesuatu ilahi masuk kedalam hal-hal biasa, yang kekal datang kepada waktu sekarang ini.

Namun, dengan memperhatikan impersonalitas (keberlangsungan tanpa perasaan, hanya berdasarkan kesadaran atau rasio saja , dan tanpa pandang bulu di pelayanan ) yang terjadi sekarang, dimana Allah hanya sebagai objek hari minggu, frase ”kerajaan Allah” telah kehilangan nilainya, atau tidak pernah diketahui. Ini menjadi semacam frase angan-angan, sesuatu yang samar-samar, sesuatu hal yang masih jauh yang mungkin dapat kita alami setelah kita mati. Gereja hanya punya harapan kecil untuk sebuah “Kerajaan Allah datang dibumi seperti di surga” (Matius 6:10). Hal yang lebih luar biasa lagi gereja membiarkan dunia mendefinisikannya – mendefinisikan fungsinya, perannya, aktivitasnya. Saya teringat keadaan Israel pada waktu mereka murtad, “dan umat-Ku menyukai yang demikian” (Yeremia 5 : 31).

Didalam saya terus lanjutkan membahas hal ini, saya rasa anda akan menyadari bahwa alternatif yang dibutuhkan adalah gereja yang berorientasi Kerajaan ; gereja yang aktif, gereja yang berjaya dan gereja yang berkemenangan, yang bisa terjadi jika ada hal-hal menantang bagi para anggota-anggotanya. Dalam mengejar hal ini setidaknya akan ada konsekuensi yang berupa celaan dan penganiayaan, dan yang paling puncak adalah kemartiran. Kemartiran bukanlah sebuah semacam pengalaman langka yang hanya dialami bagi beberapa orang karena mereka tidak cukup bijaksana menghindari konsekuensinya; kemartiran adalah normatif, hasil akhir yang logis dari iman didalam Kristus, jika kita sungguh-sungguh mengejar Dia, karena kita hidup di sebuah dunia yang bermusuhan terhadap-Nya. Fakta bahwa kita tidak mengharapkan kemartiran dan tidak mempersiapkan diri untuk hal tersebut seperti dengan apa yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa gereja hidup dibawah standar atau tujuan yang telah ditetapkan Allah. kita tidak memiliki pemahaman apostolik yang dimiliki oleh bapa-bapa gereja. Kita tidak memiliki pemahaman apostolik yang dimiliki oleh Anabaptist yang radikal pada abad ke 16 yang dibakar hidup-hidup ditiang, ditenggelamkan, dipenggal, disiksa di ruang penjara gelap bawah tanah, karena mereka melihat kehidupan kristen mereka disetting sebagai konteks drama tentang konflik hebat dua kerajaan – kerajaan kegelapan dan kerajaan terang. Mereka memilki pemahaman sebuah kerajaan Allah, dan mereka menghidupi pemahaman tersebut ; oleh karena itu mereka mempunyai dampak yang radikal di komunitas dimana mereka hidup. Hasilnya adalah penganiayaan, dunia dan negara tidak begitu menganiaya orang-orang Anabaptist seperti dilakukan “gereja gereja agamawi” yang sangat menganiaya karena “gereja gereja agamawi” melihat kekristenan mereka sebagai sesuatu yang mengancam, mengintimidasi dan melampui “resep aman” dari apa yang mereka ingin definisikan sebagai kekristenan.

Semua hal ini telah mendegradasi gereja kepada sebuah kedudukan yang hanya menjadi sebuah nominal dan kurang penting, sebagai semacam institusi tambahan di masyarakat. Gereja telah secara efektif dijinakan dan dilemahkan. Perannya telah diatur oleh dunia ini. dunia telah memberikan waktu yang aman dimana kita bisa beribadah tapi ibadah tersebut tidak mengganggu jadwal kita untuk menonton pertandingan bola dan latihan golf. Selama kita hanya mengikuti sebuah jadwal kebaktian dan memandang iman sebagai sebuah rangkaian kebaktian tiap hari minggu, selama kita tidak mencampuri urusan dunia, tetapi hanya dalam batas-batas yang telah ditetapkan bagi kita, kita akan dibebaskan dari pajak dan semacamnya. Dalam pandangan dunia, gereja hanya sebuah perkumpulan orang-orang yang mempunyai kerterarikan dan hobi yang sama atau sebuah masyarakat yang mempunyai kosakata yang aneh dan menyanyikan lagu-lagu hymne, yang kehadirannya bisa ditoleransi, selama tidak mengganggu hal-hal di dunia ini yang dianggap “sangat berharga”.

Kecuali gereja memperkenalkan kebenaran dan keadilan dibumi ini, tidak ada jalan lain untuk membuat hal-hal ini diketahui dan diterima di bumi ini. Apakah anda tidak menyadari itu ? kecuali umat Allah kembali kepada standar kebenaran yang dihidupi oleh Yesus sendiri, kita tidak dapat mengakui apa yang dosa adalah dosa, karena kita akan merusak fondasi dasar yang telah kita dirikan sendiri. Maukah anda, seperti bapa-bapa kita, berlutut, menyebut dosa anda adalah dosa karena Allah menyebutnya dosa, merendahkan diri anda, berseru untuk anugerah dan kemurahan Allah, rindu untuk melihat sebuah “rumah” yang didirikan atas dasar kebenaran dan keadilan ? kebenaran dan keadilan adalah hal istimewa yang hanya dimiliki oleh gereja. Hanya gereja yang mempunyai kapasitas untuk mengerti makna dari kata-kata tersebut, karena roh dari kata-kata diberikan dari surga dan kamus tidak dapat menjelaskan arti kata-kata tersebut, namun pengalaman hidup orang-orang kudus dapat menjelaskan arti dari kata-kata tersebut. Allah mengharapkan dunia dapat melihat kebenaran dan keadilan melalui kehidupan kita, karena Roh-Nya berdiam dalam kita. Kecuali gereja membuat kebenaran dan keadilan terlihat melalui prilaku dan kehadiran gereja, maka tidak ada jalan lain dunia dapat mengerti arti kata-kata tersebut.
Meskipun demikian, mayoritas gereja sekarang ini, bergerak sebagaimana dunia bergerak; ini mengatakan mereka hidup seolah-olah seperti Allah itu tidak ada dan tidak ada input praktis yang berasal dari Allah ke dalam kehidupan mereka sehari hari padahal mereka adalah orang Kristen. Apa yang saya sedang katakan disini? saya sedang berkata bahwa mereka yang memakai nama Kristus, diri mereka sendiri tidak percaya akan adanya konsekuensi eksistensial atas hidup mereka berdasarkan kepercayaan mereka. Fakta bahwa mereka percaya tidak secara efektif menyentuh gaya hidup mereka dan dengan demikian kita menyesuaikan diri dengan pandangan dunia terhadap gereja, yaitu gereja cuma sebagai antiseptik, membuat gereja yang tidak mempunyai konsekuensi apapun, karena mereka tidak melihat konsekuensi yang dapat dilihat dari mereka yang mengatakan dirinya percaya yaitu orang-orang Kristen. Bukannya melihat pria dan wanita yang transenden yang hidupnya sudah melampaui sakit penyakit, musibah dan bencana, dunia melihat orang-orang kristen ini juga mengalami keputusasaan saat mereka ditimpa “malapateka” tersebut. Hal seperti itu seharusnya tidak terjadi. Alasan kenapa bisa terjadi seperti itu karena gereja bukanlah gereja sampai gereja memahami mandat kerajaan. Akan selalu hidup dibawah transenden dan kedudukan yang penuh kuasa yang sebagaimana Allah maksudkan sampai gereja mengerti itu panggilan kerajaan. Gereja lebih dari sekedar sebuah kegiatan hari minggu. Keselamatan kita diharapkan untuk menimbulkan sesuatu di bumi ini. kita diharapkan untuk mempengaruhi masyarakat dan bangsa-bangsa. Kita adalah terang dunia ini. kita bukan sekumpulan orang-orang yang mempunyai ketertarikan yang sama yang mempunyai kosakata yang aneh dan menyanyikan hymne.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pengambilan keputusan yang dilakukan mayoritas orang kristen adalah seperti dunia, berdasarkan premis sekuler seperti

  akal sehat, logika, kebutuhan, kepentingan diri sendiri, keuntungan. Pengambilan keputusan yang seperti itu tidak menyiratkan bahwa Allah memiliki kehendak dalam hal-hal tersebut, yang mana keputusan-Nya dapat kita ketahui dan kita taati, ataupun ada maksud-Nya yang normatif dalam hal-hal tersebut untuk mengungkapkan kehendak-Nya bagi mereka yang berseru memanggil nama-Nya. Apa yang di perlihatkan disini adalah bahwa realitas apa yang kita percaya tidak ditentukan oleh mulut kita, tapi oleh demonstrasi tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan kita. Selama kenyataannya tidak mendemontrasikan Seorang Allah yang kehendak-Nya bisa diketahui dan ditaati, dunia tidak mempunyai kewajiban untuk mempertimbangkan Yesus sebagai Allah, Tuhan dan Raja. selama dunia melihat kita menjalankan hidup kita dan membuat keputusan-keputusan berdasarkan premis sekuler dan bukan berdasarkan nasihat dari kehendak Allah, selama kita tidak mempunyai iman yang percaya kehendak Allah dapat kita ketahui oleh pernyataan Roh-Nya, dunia tidak mempunyai kewajiban apapun untuk memperhitungkan gereja dengan serius. Kecuali Dia Tuhan atas segala aspek kehidupan kita, Dia bukan Tuhan sama sekali. Selama kita mempunyai mentalitas yang memisahkan masalah-masalah besar dan masalah-masalah kecil, bertanya kepada Allah hanya untuk masalah-masalah yang besar dan mengizinkan diri kita mempunyai hak preogratif untuk membuat keputusan sendiri untuk masalah-masalah yang kita anggap kecil, kita akan menderita karena tidak mempunyai pandangan yang memadai tentang Raja dan kerajaan. Di kerajaan Allah, tidak ada keputusan yang kecil, tidak persoalan yang kecil. Dia benar-benar Tuhan atau Dia bukan sama sekali Tuhan. Itu harus lebih dari sesuatu yang hanya menjadi sebuah bagian dari doktrin kita. Itu harus di demontrasikan didalam kenyataan dan totalitas kehidupan kita.

Celaan lain bagi gereja yang membuat dunia tidak melihat bahwa tidak ada hal-hal seperti Seorang Raja dan sebuah kerajaan karena sikap kita terhadap penyakit, kecelakaan dan kematian. Kita berpikir hal-hal ini sepenuhnya arbitrer (sebuah keputusan yang diambil tanpa izin siapapun). “terjadi begitu saja, itu sudah biasa terjadi dalam kehidupan ini, itulah hidup ; itu alamiah ; terima saja.” Gereja hanya memiliki sedikit kepekaan akan kausasi (hubungan sebab akibat : suatu peubah yang menjadi sebab sehingga suatu akibat terjadi)

  ilahi. Sedikit kesadaran kalau sesuatu terjadi akibat dari penghakiman dan penghukuman Allah, atau alasan-alasan lain mengapa Allah membiarkan hal itu terjadi. Jadi kita mengabaikan hal-hal tersebut sebagaimana dunia mengabaikannya dan oleh karenanya kita juga mempunyai cara yang sama dengan dunia untuk mengatasinya, apakah itu dengan Aspirin atau pergi ke dokter, kita juga tidak bertanya kenapa kita mengalami sebuah masalah ekonomi atau sebuah kehancuran pernikahan atau mengalami sakit penyakit atau berbagai macam hal lainnya yang mana Allah menggunakan hal-hal itu untuk mengkoreksi dan mengusik kita.

Aspek lain dari impersonalitas kosmik ini dengan tidak membawa Allah dengan vital kedalam dunia yang Dia ciptakan adalah karena kurangnya sebuah kesadaran akan sebuah dunia roh yang tidak kelihatan, yang mana telah begitu disingkirkan dan berada diluar kesadaran kebanyakan orang kristen. Tidak ada pengetahuan praktis tentang tipu muslihat musuh yang akan memanipulasi korbannya. Prevalensi Halloween atau bercanda tentang setan, atau menggambarkan setan di majalah dengan ekor dan trisula dan hal-hal yang sejenisnya yang ada di kultur kita saat ini menunjukan betapa kita telah begitu menyingkirkan salah satu fakta yang paling penting yang merupakan realitas alam semesta, yaitu adanya sebuah dunia roh yang terdiri dari pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di udara yang mempunyai pengaruh atas prilaku bangsa-bangsa dan manusia. Karena gereja tidak secara cukup memperhitungkan hal tersebut, tidak cukup percaya dan gereja tidak hidup sebagaimana kalau gereja mempercayainya dan karenanya dunia tidak di dorong untuk secara serius mempertimbangkan adanya fakta tersebut. Oleh karenanya setan memiliki kesempatan yang tak tertandingi untuk merenggut, mengintimidasi, mengancam dan mempengaruhi prilaku bangsa-bangsa tanpa kesadaran sedikitpun yang dimiliki manusia bahwa dia adalah sumber segala kejahatan yang ada semenjak permulaan dunia. Gereja terlalu kekurangan darah bahkan untuk menunjukan siapa sumber segala kejahatan di dunia, apa lagi untuk mengatasinya. Kita tidak mengerti konflik besar antara terang dan kegelapan yang mempengaruhi semua realitas, baik di masa lalu maupun di masa datang. Ini adalah sebuah kesadaran kerajaan yang perlu dipulihkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s