Sebuah hati untuk penuaian – K.P Yohannan. Post by: Yohanes Tarigan


Sambungan dari sebelumnya : Apa yang kita butuhkan untuk bertahan hidup? – K.P Yohannan

Apakah anda menemukan di dalam kehidupan ini yang mempunyai nilai lebih besar dibandingkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang penting – sesuatu yang mempunyai prioritas lebih tinggi dibandingkan sepotong roti dan segelas air?

Yesus menemukan nilai yang lebih besar dan prioritas yang lebih tinggi dibandingkan seopotong roti dan segelas air. Mari lihat di Yohanes 4 untuk mengingatkan diri kita apa yang lebih penting bagi Dia daripada makan dan minum.

Sebuah hati untuk penuaian – K.P Yohannan

Selagi kita membaca injil dan mengobservasi kehidupan Yesus, kita menemukan Dia mempergunakan setiap kesempatan untuk mengajar murid-murid-Nya tentang injil kerajaan Allah. Dan apapun yang Dia ajarkan, Dia praktekkan di depan mereka. Apa saja yang Dia katakan dengan jelas terefleksikan di dalam kehidupan-Nya. Dia adalah sebuah contoh yang hidup dan bernafas bagi murid-murid-Nya. 12 orang murid-murid-Nya memiliki kesempatan untuk melihat kehidupan-Nya dan belajar dari setiap tindakan-Nya.

Salah satu peristiwa yang menantang dan mengubahkan murid-murid tercatat di Yohanes 4. Yohanes 4 ini adalah relevan bagi kita

 sebagaimana relevan bagi murid-murid Yesus pada waktu itu. anda mungkin familiar dengan kisah perempuan di sumur yang kepadanya Yesus berbicara tentang air hidup. Murid-murid telah keluar kota untuk membeli makanan dan saat mereka kembali mereka menawarkan makanan itu kepada-Nya.

“Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?” Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.” (Yohanes 4 :32-35)

Dapatkah anda menyadari kebingungan yang dialami murid-murid? Yesus pasti lapar akibat perjalanan yang dilakukan-Nya, jadi mereka pergi ke desa yang terdekat untuk membelikan Dia sesuatu untuk dimakan. Mereka sendiripun belum makan dan mungkin mereka lapar dan haus seperti Yesus. Dan kemudian Yesus terlihat seperti seolah-seolah Dia sudah makan: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Perkataan-Nya ini lebih membingungkan mereka: “kita pergi keluar kota karena masalah lapar dan sekarang Dia tidak mau makan! Apakah seseorang telah memberikan makanan kepada-Nya?

Apakah yang sedang Yesus ingin sampaikan? Dia menilai sesuatu yang dilakukan setiap hari – makan – untuk memberikan ilustrasi kepada murid-murid-Nya sebuah prinsip dari kerajaan lain. Yesus mengatakan sesuatu seperti ini:

Orientasi kalian horizontal (duniawi), cuma memikirkan apa yang ada dibumi ini dan waktu sekarang ini – kaki kalian capai dan berdebu, perut kalian keroncongan, tenggorokan kalian kering. Tapi alihkan perhatian kalian sebentar dari hal-hal itu. lihatlah sekelilingmu! Lihatlah kepada kekekalan dan lihat apa yang Aku lihat. Kamu berkata empat bulan lagi tibalah musim menuai, tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekarang jiwa-jiwa pria dan wanita di sekelilingmu, ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Jika kalian menunggu lebih lama lagi panen akan gagal – dimusnahkan. “iya, Aku lapar, Aku haus tapi ada krisis di luar sana yang begitu nyata yang menyita seluruh keberadaan-Ku, dibandingkan dengan apa yang akan terjadi, Aku tidak lagi lapar, Aku ingin segera menyelesaikan tugas yang diberikan Bapa kepada-Ku.

Yesus dapat saja menggunakan beberapa contoh untuk menjelaskan prinsip-prinsip kerajaan, lalu mengapa Dia menggunakan makanan? Mungkin karena itu lebih bisa dimengerti oleh kita. Bagi kita kebutuhan dasar paling penting tidak hanya segelas air dan sepotong roti, namun bagi Yesus kebutuhan dasar yang paling penting sekalipun

 bagi kita – roti dan air – menjadi tidak penting saat Dia mengetahui ada orang-orang yang sedang sekarat tanpa kasih Bapa-Nya.

Yesus berbicara kepada kita hari ini sama kerasnya seperti Dia berbicara murid-murid. Dia memberikan perintah yang sama kepada kita yang Dia berikan kepada murid-murid-Nya: “Ikuti Aku.” Jika kita adalah pengikut-Nya, kita akan mendengarkan perintah ini dan melakukan hal yang sama dengan yang Dia lakukan. Tetapi sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging sebagaimana murid-murid Yesus, kita memiliki orientasi horizontal juga. Kita fokus kepada hal-hal di bumi ini dan waktu sekarang ini – pakaian, rumah, pendidikan, karir, isi rekening bank, keuangan, mobil.

Tapi Yesus memanggil kita untuk kita melihat sekeliling kita dan melihat melampui lebih jauh dari apa yang kita lihat sekarang ini. Dia memanggil kita untuk melihat apa yang Dia lihat, untuk merasakan sebuah urgensi yang Dia rasakan, untuk memiliki hati-Nya bagi penuaian yang sebentar lagi akan lenyap – dan dimusnahkan selamanya – jika tidak di tuai segera.

Sepanjang yang tercatat di injil, kehidupan Yesus di tandai dengan urgensi: “Aku harus pergi”; “Aku harus bekerja”; “akan datang malam”; “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” kalimat-kalimat seperti ini menyampaikan kepada kita apa yang Yesus rasakan dan untuk apa Dia hidup. Dia begitu tidak menghiraukan apapun sehingga makanan dan minuman bukan menjadi prioritas utama lagi.

Betapa kontrasnya dengan hidup kita yang santai. Mari kita tinggalkan gaya hidup dan sikap kita yang santai untuk sebuah dunia yang terhilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s