We aren’t from this world – Hendry Kornelius. Post by: Henny Yonathan

Artikel kedelapan
Puji Tuhan atas kasih karunia-Nya yang tak berkesudahan saya masih dapat melanjutkan artikel ini. Jujur saya sudah sangat bosan sekali untuk menulis, bahkan untuk hidup di dunia yang fana ini, saat ini saya sangat-sangat bosan sekali, saya jenuh, tidak ada yang bisa memuaskan saya.
Karena saya tahu, kita bukan berasal dari dunia ini, itu yang membuat saya bosan dengan hidup di dunia ini, saya sadar kita adalah anak seorang raja kekal yang berada di surga itu, dan betapa bodohnya kita, jika kita bisa menikmati dunia ini, ketika seharusnya dunia ini bukan bagian dari kita, karena kita pun bukan bagian dari dunia, kita adalah bagian dari Kristus Yesus.
Namun inilah yang bisa saya lakukan selama saya masih menetap di dunia yang hampa ini. Kiranya Tuhan cepat-cepat memanggil kita agar kita dapat merasakan kehidupan sesungguhnya yang seharusnya kita miliki sejak awal, atau kiranya Tuhan akan segera datang untuk menjemput kita yang sedang
menantikan Dia
Ibrani 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang
menantikan Dia.
Ayat ini sangat begitu mengerikan buat saya, pada kedatangan Yesus kedua kalinya, Dia akan menganugerahkan keselamatan kepada kita, itu ayat yang bagus sekali, namun jangan lupa belakang ayat itu berkata, bagi kita yang sedang
menantikan Yesus.
Pertanyaannya sederhana sekali, apa kita sedang
menantikan dia? Atau kita sedang menantikan lulus kuliah dan bekerja? atau kita sedang menantikan handphone baru, rumah baru, mobil baru, motor baru? Atau kita sedang menantikan pasangan hidup? Atau kita sedang menantikan …….. silakan isi sendiri yang sedang kita nantikan.
Yang jelas kalau kita tidak sedang menantikan Yesus. ketika Tuhan yesus datang kita tidak akan di anugerahkan keselamatan oleh Dia.
Lalu kalau begitu keselamatan dapat di usahakan dong, bukan anugerah? Jangan salah mengartikan ayat ini, dan ayat-ayat lain yang sepertinya keselamatan dapat kita usahakan, itu sama sekali tidak benar, keselamatan hanyalah anugerah bukan hasil usaha kita sendiri.
Ayat ini dan ayat-ayat lain yang berbicara hampir sama, hanya menyatakan ciri-ciri orang yang akan di selamatkan. Contohnya seperti ini: orang yang dapat nilai bagus pasti belajar, tapi apakah orang yang belajar selalu mendapat nilai bagus? Jawabannya kan tidak selalu, namun ciri-ciri orang yang akan mendapat nilai bagus ialah yang belajar dengan sungguh-sungguh.
Nah pertanyaannya apakah kita orang yang sedang belajar dengan sungguh-sungguh itu (
menantikan Dia)? Yang walaupun belum tentu mendapat nilai bagus (belum tentu selamat), Tapi kita tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, karena ciri-cirinya orang yang akan di anugerahkan keselamatan adalah seperti itu.
Apakah kita sedang
menantikan Dia? Ada perbedaan yang sangat mencolok antara kita sedang
menantikan Dia atau sedang hanya menunggu Dia, namun ini tidak pernah kita sadari.
Analogi-nya seperti ini: Ketika ada 2 orang di halte busway sebut saja Rina dan Rini, yang akan pergi ke kampus, keduanya sama-sama memiliki kampus yang sama dan jadwal masuk yang sama, namun Rina sudah menyadari kalau dia akan segera telat masuk kampus, kalau busway itu tidak segera datang, berbeda halnya dengan Rini yang tidak menyadari itu, bahkan dia terkesan cuek dengan itu, walaupun dia tahu dia akan segera telat sampai kampus.
Sudah sangat jelas dalam menunggu busway ini Rina adalah orang yang sedang menantikan busway itu, namun Rini adalah orang yang hanya sedang menunggu busway itu, dia tidak peduli kapan busway datang. Itu terbukti juga ketika busway itu datang Rina akan berlari menuju busway itu, dan menerobos segerombolan orang, agar dia bisa masuk kedalam busway yang datang tadi.
Dia tidak peduli akhirnya dia jatuh, atau kakinya sakit akibat terburu-buru masuk busway,atau bahkan di cemooh orang karena dia menerobos, yang jelas dia sangat berusaha untuk menerobos masuk busway itu, agar dia tidak telat masuk kampus.
Berbeda sekali dengan Rini yang ketika busway itu datang dia dengan santai-nya berjalan dan menunggu di belakang gerombolan orang-orang busway, tanpa berusaha menerobos gerombolan orang itu, dia memilih dengan santai-nya menunggu, dia lebih memilih nyaman menunggu di belakang, di bandingkan dia berusaha.
Yang pada akhirnya karena Rina berusaha sekuat tenaga dia berhasil masuk busway, dan Rini yang tidak berusaha, terkesan santai akhirnya dia tertinggal oleh busway itu, dia harus menunggu busway berikutnya. Akhirnya Rina masuk kampus dengan tepat waktu dan Rini telat dan di hukum.
Itu lah hidup kita semua, kita sedang menunggu Tuhan atau sedang
menantikan Tuhan? Ini sangat samar-samar, sulit di bedakan mana Rina mana Rini, karena baik Rina dan Rini sama-sama sedang berada di posisi yang sama, dan terlihat sedang melakukan hal yang sama, sama-sama ingin berangkat ke kampus.
Apa yang membedakannya? Yaitu
hati dan pikirannya itu lah yang membedakan Rina dan Rini. Bagaimana kita dapat membedakan hidup kita, sedang menunggu atau
menantikan?
Orang yang sedang
menantikan Tuhan  Akan mempunyai respon cepat tentang hal-hal rohani, ketika dia bangun tidur  yang akan dia perbuat,  pasti tidak lain dan tidak lebih baca alkitab, atau renungan, atau baca buku-buku rohani.
 
Berbeda halnya dengan orang yang hanya sedang menunggu saja, hal yang dia lakukan ketika dia bangun sudah pasti hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan Yesus, dia akan lebih cepat mengambil handphone dia dan melihat bbm,wa,line,facebook,twitter, dan lain-lain ketimbang membuka alkitab ketika bangun tidur.
Begitu juga dengan waktu-waktu luang-nya, sudah pasti orang yang
menantikan Tuhan memanfaatkan waktunya untuk lebih mengenal Tuhan. Berbeda halnya dengan orang yang hanya sedang menunggu Tuhan saja, dia akan memanfaatkan waktu luang yang dia punyai untuk lebih mengenal dunia ini.
Dia akan lebih cenderung berbicara tentang dunia, bicara tentang pekerjaannya, bicara tentang bagaimana caranya sukses dalam hidup ini, bicara tentang gosip-gosip yang sedang panas di muka bumi ini, ketimbang berbicara tentang Tuhan Yesus, dan hal-hal rohani lainnya.
Dalam pergaulan pun orang-orang yang sedang menunggu Tuhan dan
menantikan Tuhan sangat berbeda.
Orang-orang yang hanya sedang menunggu Tuhan dia akan cenderung lebih senang bergaul dengan orang-orang dunia yang membicarakan tentang dunia, tentang pacaran, tentang hal-hal duniawi, tentang liburan, dan lain-lain yang dia anggap bisa memuaskan hidupnya, ketimbang bergaul dengan orang-orang yang berada dalam gerejanya orang-orang seiman dengannya, yang berbicara tentang Tuhan dan hal-hal rohani lainnya.
Orang-orang yang hanya menunggu Tuhan sangat muak ketika ada orang yang berbicara tentang Tuhan di hadapannya, meski dia tidak pernah menampakkan itu, namun perlahan dia akan menyingkir dari komunitas itu dan beralih pada komunitas yang satu pikiran dan satu kesenangan dengan dia.
Orang-orang yang hanya menunggu Tuhan, tidak pernah sedikitpun memikirkan bagaimana nanti setelah kematian, berbeda halnya dengan orang yang
menantikan Tuhan, dia akan gelisah dengan bagaimana setelah kematian ini, dan bahkan mereka lebih cenderung merindukan kematian dari pada hidup di dunia ini.  
Orang-orang yang
menantikan Tuhan akan berpikir setiap harinya bagaimana cara dia menyenangkan Tuhan bukan menyenangkan diri sendiri, kalau yang menunggu Tuhan sudah pasti dia akan berpikir bagaimana hari ini atau besok, atau di masa depan dia bisa bahagia.
Bahkan yang  sangat parah-nya orang-orang yang
menantikan Tuhan akan berusaha setiap harinya, setiap waktunya untuk menyelamatkan orang-orang di sekelilingnya yang belum mengenal Tuhan, dan yang masih mengenal Tuhan dengan tidak serius. 
Berbeda sekali dengan orang yang sedang menunggu Tuhan mereka lebih cenderung ingin menemui orang yang dapat menolong dia, yang mereka lihat bisa menjadi teladan dalam hidupnya, namun mereka tidak pernah menemukan itu pada diri orang lain, karena sebenarnya masih ada roh kritik dalam hidup mereka yang tidak pernah bisa berhenti melihat kesalahan orang lain dalam hidupnya dan mengkritik orang lain, dia tidak menjadikan dirinya sebagai teladan, dan melihat Tuhan Yesus adalah teladan sejati dalam hidupnya, namun mereka hanya berusaha bagaimana orang tidak lebih baik dari mereka.
Dan pada kesimpulan terakhir ini sepertinya, saya pun belum termasuk orang yang sedang
menantikan Tuhan, saya masih hanya sedang menunggu Tuhan saja. Namun saat ini saya mau belajar untuk menantikan Tuhan dalam hidup saya, bukan hanya menunggu Tuhan saja.
Ada ilustrasi yang baik ketika tadi saya sedang menantikan sms dari teman saya, sms itu tidak pernah sampai-sampai pada saya. Padahal seharusnya kalau saya pikir sms teman saya biasanya tidak terlalu lama, seharusnya dalam ukuran waktu dia sudah membalas sms saya, namun tetap belum ada balasan sms.
Namun akhirnya saya sadar ketika melihat sinyal di handphone saya, ternyata sinyal-nya tidak ada, dan saya sadar saya berada di tempat yang salah, saya harus pindah agar mendapat sinyal, dan bisa menerima balasan sms dari teman saya.
Itulah kehidupan kita, terkadang kita sangat sulit mengetahui apa kehendak Tuhan dalam hidup kita, terkadang kita sudah ingin berubah, namun karena tetap berada di tempat yang salah, yang membuat tidak adanya sinyal kehidupan pada diri kita, sehingga hidup kita tidak akan pernah berubah, sehingga pesan Tuhan Yesus tidak pernah sampai dalam diri kita.
Kita tetap berada dalam pergaulan dan lingkungan yang tidak senonoh terhadap Tuhan, kita tetap berteman dengan orang-orang yang lebih mencintai dunia dari pada Tuhan, kita tetap berada dalam lingkungan kita yang berpikir bagaimana caranya sukses dalam hidup, bahkan kita tetap membiasakan kebiasaan jelek kita yaitu berutang terhadap teman kita, kita merasa utang sama teman adalah sesuatu hal yang sepele.
Kita tetap tidak bertanggung jawab pada kehidupan jasmani kita, bekerja atau tidak bukan masalah buat kita, kita tetap membebani orang tua kita, kita tetap malas pergi ke gereja, karena kita anggap orang-orang gereja adalah orang-orang munafik, kita menganggap kita lebih baik dari mereka semua, dan yang terakhir ini adalah yang paling bahaya, kita tetap punya roh kritik dalam hidup kita, yang membuat kita mengkritik gereja kita, teman kita, bahkan pendeta kita sendiri.
Yang terpenting dari semuanya adalah kita sadar kalau kita bukan berasal dari dunia ini. (we aren’t from this world).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s