Mature in Jesus – Hendry Kornelius. Post by: Hendry Kornelius

Artikel kesembilan (Mature in Jesus)
Sungguh saya sangat malas menulis saat ini, dari kemarin sepertinya tergerak buat menulis, namun entah mengapa sangat malas sekali buat menulis, kalau saya pikir tulisan saya sepertinya tidak begitu berdampak, namun ini adalah salah satu wadah harapan saya untuk menabur sesuatu yang baik dan bersifat kekal.
Saya sangat berharap dalam waktu dekat ini ada yang membaca tulisan-tulisan saya ini dan akhirnya bertobat benaran. Karena hal ini sangat genting menurut saya, sesuatu yang besar akan terjadi pada kita semua, lingkungan kita, keluarga kita, dan pada dunia ini
.
Tahukah Tuhan sekarang benar-benar sedang bersedih karena sikap hidup kita yang seperti ini terus. Bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun tidak pernah ada perubahan yang sangat significant untuk iman kekristenan kita.
Semoga Tuhan benar-benar berkarya lewat artikel ini. Tahukah kalau Tuhan benar-benar berkarya lewat artikel ini kemungkinan kita semua yang membaca ini benar-benar bertobat. Semoga Tuhan Yesus memberikan belas kasihan pada kita semua, sungguh tolonglah kami Jesus, kami butuh bantuan Engkau berkarya di hidup kami, agar hidup kami benar-benar berdampak buat yang lain, agar kami sendiri pun benar-benar merasakan apa yang Engkau rasakan saat ini.
Sungguh saya sangat bosan tinggal dan hidup di bumi ini yang akan cuman sementara, semuanya benaran akan berlalu, yang kita kejar di bumi ini semuanya sia-sia, semuanya itu benaran sampah. sadar tidakkah kita dengan hal ini? Ini bukan bercanda, ini adalah peperangan iman, dimana suatu saat nanti benaran akan ada yang menerima surga
kekal dan neraka
kekal. Ingatlah kata-kata ini
KEKAL (Selamanya atau abadi).
Kita harus benar-benar sadar kalau ini sangat mengerikan, di mana 70 tahun kualitas hidup kita akan di pertaruhkan untuk suatu kehidupan
kekal, Suatu yang sangat bernilai abadi. Dimana berarti kita harus mempersembahkan hidup kita seutuhnya semua pada Jesus, atau kita di tolak.
Kata-kata ini sangat keras, dan berat. Namun kalau saya pikir sudah saatnya kita dewasa di dalam Tuhan (mature in Jesus). Permasalahannya bukan kita butuh di proses sedikit demi sedikit agar lebih dewasa atau tidak, namun persoalannya adalah
waktunya sudah dekat dan tidak lama lagi.
Itu yang paling parahnya, dimana kita yang membaca artikel ini harus benar-benar dewasa di dalam Tuhan dan kita semua mempunyai tanggung jawab untuk ini.
 Ibrani 5:12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi di ajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Bagaimana caranya anak kecil disuruh menjadi dewasa, mana bisa? Kita jangan lupa kalau dewasa yang di maksud adalah pikiran, perasaan, dan kehendak. 
Ada anak yang sudah cukup dewasa umurnya, namun tidak dewasa. Ada juga anak yang umurnya sebenarnya belum dewasa, tetapi dia dewasa. Kenapa itu bisa terjadi?Kemungkinan anak yang sudah berumur dewasa, namun dia tetap tidak dewasa juga, pasti dia sering di manja oleh orang tuanya, atau kemungkinan kedua dia tidak tahu dewasa itu seperti apa, atau ini yang paling parah, dia sudah tahu dewasa itu seperti apa, tapi dia tidak mau melakukannya, karena dia tetap mau di manja oleh kedua orang tuanya, dia tetap masih mau meminta, padahal dia tahu seharusnya dia sudah memberi, karena umurnya yang sudah dewasa.
Dahulu ketika kecil saya tinggal dengan nenek saya, saya masih mengempeng sampai umur 4 tahun. Itu sangat susah sekali di lepas, berulang kali nenak saya memberi tahu saya kalau empeng itu harus di buang, karena saya sudah cukup besar tidak pantas memakai empeng lagi.
Saya sudah tahu hal itu. tapi bagaimana ya, karena sifat saya yang masih kecil itu, dan saya pikir juga waktu itu kalau ngempeng itu enak, walaupun kalau sekarang di suruh menjelaskan juga kenapa ngempeng itu enak  saya juga sudah tidak tahu, namun saat itu saya benar-benar merasakan kalau itu adalah hal yang enak, dan saya menikmati itu.
Bayangkan umur 4 tahun masih ngempeng, itu sangat memalukan menurut saya, saya juga malu ketika menulisnya saat ini. Namun saya menemukan cerita menarik yang dapat saya bagikan dari situ, apa boleh buat saya tetap harus menceritakan itu.
Berulang kali nenek saya memberi tahu saya, namun tidak bisa juga. Akhirnya pada suatu hari kelak ketika kakak dan mama saya datang ke rumah nenek saya – karena saya tinggal dengan nenek saya dan kakak saya tinggal dengan mama saya- saya melihat kakak saya tidak memakai empengnya lagi, sedangkan saya masih mengempeng.
Pas ketika kakak saya tidak melihat saya dan sedang melihat yang lain, saya langsung buang itu empeng entah kemana, dan hilang entah kemana, dan ketika itu juga saya berhenti mengempeng, dan saya sudah sedikit memenuhi standar manusia dewasa jasmani, di mana saya tidak membutuhkan empeng lagi.
Kalau di tanya sampai sekarang apa alasan saya membuang empeng itu dari mulut saya? Jawabannya ketika saya melihat kakak saya sudah tidak mengempeng lagi, makanya saya pun membuangnya.
Kalau di tanya lagi, kenapa kamu buang empeng itu ketika melihat kakak kamu tidak mengempeng, apa karena kamu tidak mau kalah? Jawabannya bukan, namun karena saya melihat ternyata mengempeng sudah tidak jaman nya lagi untuk kakak saya, berarti juga untuk saya tidak jaman kalau begitu.
Nah saya berharap kita juga saat ini sadar kalau main-main di hadapan Tuhan, dan tidak serius dengan perintah-perintah-Nya sudah tidak jaman lagi. Dan ini benar, sekarang saatnya serius bagi Tuhan, sekarang saatnya total buat Tuhan.
Bagaimana caranya serius dengan Tuhan, dan puji Tuhan kalau-kalau bisa menjadi dewasa dalam Tuhan? Ya pertanyaan ini baik sekali, karena kita tidak akan bisa menjadi dewasa, kalau kita tidak benar-benar serius berurusan dengan Tuhan. Jawaban ini sama ketika saya membuang empeng saya.
Untuk menjadi dewasa harus ada empeng yang di buang dahulu. Dan empeng itu apa? Empeng itu kebiasaan lama kita yang buruk, yang sudah berlarut-larut, yang sudah benar-benar butek, yang sudah benar-benar mengikat kita, namun kita tidak pernah sadar kalau itu lah yang membuat kita tidak pernah berkembang, dan di proses dewasa.
Saya bertanya-tanya dengan Tuhan, “Tuhan kira-kira apa ya empeng yang di maksud?” dan saya di bawa ke arah ini. Apa si empeng-empeng orang Kristen yang sangat sulit di hilangkan? Menonton televisi, belanja, melakukan hal yang sia-sia.
Saya sangat ingin menjelaskan caranya bagaimana untuk menjadi dewasa, karena biasanya ketika saya menulis saya pun
terberkati dengan apa yang saya tulis, sehingga saya pun bisa belajar menjadi dewasa.
Namun itu sangat sia-sia, kita semua tidak pernah bisa menjadi dewasa di dalam Tuhan kalau empeng kita belum kita buang entah kemana, dan kita berhenti mengempeng lagi. Hal itu menjadi sia-sia kalau saya jelaskan, dan sudah banyak sekali khotbah dan tulisan-tulisan yang kita baca dan dengar, namun kita tetap tidak menjadi dewasa. Padahal seharusnya ditinjau dari umur, waktu, dan hal-hal yang sudah di beri tahu pada kita, kita sudah seharusnya menjadi dewasa, bahkan pengajar.
Namun saat ini kita tetap menjadi anak kecil, mungkin ketika saya umur 4 itu makanan saya sudah berubah dari bubur menjadi nasi, saya sudah bisa memakan makanan keras, namun saya tetap menjadi anak kecil, karena saya tetap mengempeng setelahnya. 
Ini kan yang paling parah.Apa yang salah dari menonton televisi? Tidak ada yang salah dengan itu, menonton televisi juga baik, kita lebih punya banyak informasi, dan menambah wawasan. Namun pertanyaannya berapa jam kah kita menonton televisi, dan berapa menit kah kita membaca alkitab di rumah kita? ……….. silakan kita jawab dengan jujur sendiri.
Lalu kalau belanja, apa yang salah dari itu, kita kan butuh untuk memenuhi kebutuhan kita? Ya belanja juga bukan berarti salah, namun pertanyaannya seberapa sering akhirnya kita memakai jam ibadah untuk kita pergi belanja? ……. Silakan jawab sendiri lagi
Nah ini yang paling parah menurut saya, melakukan hal yang sia-sia. Saya sempat benar-benar menyesal, ketika saya sadar dan baru bertobat umur 21 ini. Mungkin baru beberapa bulan yang lalu akhirnya saya benaran tobat. Benar-benar jarang melakukan hal yang sia-sia, kebanyakan dari hidup saya saat ini, hanya untuk melakukan hal yang kekal, yaitu tentang bagaimana menjadi pekerja yang baik bagi Tuhan Yesus, dan bagaimana menjadi saksi-Nya yang berdampak.
Tahukah seharusnya setiap menit, bahkan detik yang Tuhan berikan pada kita, sebenarnya dia berikan hanya untuk mengenal Dia di dalam hidup kita. Namun banyak dari kita yang tidak sadar akan hal ini. Banyak dari kita yang setiap menit, bahkan jam nya habis untuk urusan dunia ini, yang menurut saya sangat lah konyol.
Kebanyakan dari kita setiap menit nya habis hanya untuk mengupdate status facebook, bbm, wa, line, dan twitter kita. Hidup kita habis dengan perkara-perkara yang tidak ada hubungannya dengan kekekalan, Itu hal sangat konyol dan bodoh menurut saya, tetapi kalau saya salah, tolong di maafkan.
Tahukah kalau pergi ke gereja saja tidak akan pernah bisa membuat kita dewasa. Yang akan membuat kita dewasa ialah hubungan setiap hari kita dengan Tuhan. Itu bagaikan tanaman yang setiap harinya harus di siram air, bedanya kita bukan air biasa, namun kita adalah air kehidupan.
Kedewasaan di dalam Tuhan hanya bisa di dapat lewat kita membaca alkitab setiap hari, mendengarkan khotbah lewat radio atau handphone atau yang lain nya seperti membaca renungan dan artikel-artikel tentang Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, dan masih banyak lagi cara-cara yang lebih baik, namun yang jelas kedewasaan tidak akan pernah di dapat, ketika kita hanya memutuskan untuk pergi ke gereja seminggu 1 kali atau 2 kali, tanpa pernah adanya suatu persekutuan terhadap Tuhan setiap harinya.
Dan persekutuan terhadap Tuhan juga tidak pernah bisa di dapatkan ketika masih ada yang mengikat kita, atau ketika masih ada empeng di dalam diri kita. Empeng itu akan terus lebih berusaha untuk menarik perhatian kita melebihi Tuhan, dan itu sangat parah.
Kita harus benar-benar mengambil langkah saat ini, kita harus benar-benar membuang empeng kita saat ini. Jangan pikirkan alasannya, karena sebenarnya tidak ada alasan untuk kita tidak melakukan ini. Yang jelas kita harus benar-benar mendobrak hidup kita, benar-benar terlepas dengan ikatan apapun di dunia ini.
Pertanyaannya sederhana ketika kita tetap tidak berusaha melepaskan empeng kita itu, pertanyaannya mau sampai kapan kita ngempeng?  Ini sudah saatnya menerobos kehidupan-kehidupan kita yang sangat sia-sia itu, beralih lah pada suatu kekekalan, beralih lah pada Tuhan Yesus.
Sebab sedikit bahkan sudah sangat  sedikit waktu lagi, dan saya sangat percaya itu, dan kiranya kita semua percaya akan hal itu juga, dan mengimani itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, kepingin atau tidak kepingin, hari ini, detik ini, saat ini juga kita harus segera membuang kehidupan lama kita itu semua, dan menggantinya dengan yang bersifat kekal, yang ada hubungannya dengan Tuhan Yesus.
Ganti lah menonton televisi kita dengan membaca alkitab, ganti lah waktu belanja kita dengan beribadah, ubah lah  hal yang sia-sia kita lakukan dengan kita melakukan suatu hal yang kekal.
Cobalah untuk hidup belajar sebagai anak-anak Allah sebagaimana seharusnya. Ketika seharusnya pembalap motor memakai motor besar yang keren dan kencang, dan itu memang hak dia untuk memiliki nya, namun dia di berikan motor bebek, yang kecil dan tidak bertarikan kencang. Suatu hal yang sangat aneh menurut saya, kalau pembalap itu senang, bahkan dia menikmati itu.
Begitu juga dengan kita semua, ketika kita seharusnya adalah anak raja kekal, seharusnya kita tinggal di kehidupan yang kekal, seharusnya kita melihat suatu hal yang kekal, dan seharusnya juga kita mencari hal yang kekal, namun betapa bodohnya kita saat ini kalau kita bisa menikmati suatu hal yang sementara, menikmati suatu hal yang lebih rendah dari pada apa yang seharusnya kita miliki di kerajaan kekal bersama Tuhan Yesus.
Sadar tidakkah kita akan hal ini sebenarnya? apakah dunia ini sudah menjijikkan kita? Atau bahkan kita menikmati dunia ini, tanpa pernah berpikir kapan pulang ke rumah sesungguhnya?
Ketika saya kecil, saya pernah merasakan hal yang sangat menjijikkan buat saya. Saya pernah memakan tahi saya sendiri, ketika saya buang air besar di pispot saya, karena saya tidak mengerti, saya makan tahi itu, dan ketika nenek saya melihat saya, dia menertawakan saya, dan berkata “ aduh itu kan tahi, masa di makan, itu menjijikkan, itu sangat tidak enak”
Ya setelahnya saya tidak tahu persis saya bagaimana, saya sudah lupa. Namun ketika barusan saya menulis ini dan mencoba membayangkan nya lagi saja saya mau muntah. Karena saya memakan makanan yang seharusnya bukan saya makan.
Saya berharap seperti ini lah seharusnya kita menyikapi hidup kita. Ketika kita seharusnya adalah anak Raja Kekal di surga, namun kita tidak hidup sebagaimana seharusnya kita harus hidup, saya rasa, itu sama seperti saya makan tahi ketika saya kecil tadi. Itu sangat menjijikkan dan membuat muak.
Semoga kita dapat memandang Dunia yang sementara ini sama seperti ketika saya makan tahi saya sendiri waktu kecil. Itu sangat menjijikkan.
Inilah tahapan-tahapan kalau kita mau menjadi dewasa didalam Tuhan, pertama kita harus benar-benar membuang empeng kita, yang di maksud adalah segala keter-ikatan kita pada dunia ini, yang kedua kita harus mendekatkan diri pada Tuhan, dengan cara membaca alkitab lebih sering dari pada hal-hal dunia lainnya, dan masih banyak cara lain lagi, yang mungkin bahkan anda semua jauh lebih mengerti dari saya.
Tulisan ini sudah sangat jelas saya rasa menjelaskan bagaimana kita akhirnya bisa hidup mature in Jesus, ini semua tergantung kita sendiri, kita mau melakukannya atau tidak, ini semua tergantung kita sendiri, apakah kita benar-benar ingin berubah atau tidak, ini semua tergantung kita sendiri apakah kita benar-benar sadar kalau kita adalah anak Tuhan Yesus raja kekal, yang berarti harus mematuhi peraturannya atau tidak.
Pada akhir kesimpulan artikel ini saya mau mengungkapkan ini semua tergantung kita, kita menjadi lebih condong terhadap dunia atau Tuhan Yesus pun itu tergantung kita sendiri, bahkan kita menerima Surga
kekal atau neraka
kekal pun itu adalah pilihan kita.
 
Kasih karunia turun atas orang-orang yang sudah melakukan perkara tentang Yesus semaksimal mungkin namun tetap gagal.
Itulah kita semua yang sekarang sedang benar-benar serius sama Tuhan namun terkadang tetap saja gagal. Itu yang saya tahu, selebihnya dengan kita yang tidak berusaha, dan masih menganggap sepele tentang kekekalan, saya sungguh benar-benar tidak tahu dengan nasib kita yang seperti itu. 
Semoga Tuhan berkemurahan menjamah kita semua yang belum serius terhadap Tuhan dan kehendak-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s