KESAKSIAN KARL RABEDER: MEMBERIKAN SELURUH KEKAYAANNYA KARENA TIDAK BAHAGIA – PELAKU FIRMAN. Post by: PELAKU FIRMAN

KESAKSIAN KARL RABEDER: “MEMBERIKAN SELURUH KEKAYAANNYA KARENA TIDAK BAHAGIA”

Seorang miliuner asal Telf, Austria yakni Karl Rabeder telah memberikan setiap sen kekayaanya senilai total 3 juta poundsterling atau setara Rp50 miliar pada awal tahun 2010 setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia. Demikian diberitakan Kompas 12 Februari 2011 lalu.

Rabeder (47), pengusaha sukses dari Telfs, kini tengah menjual vila mewah dengan danaunya serta pemandangan pengunungan Alps yang spektakuler senilai Rp 21 miliar. Dia juga menjual rumah pertanian dari batu serta belasan hektar lahan di sekitaranya di Provence dengan nilai Rp10 miliar, serta enam koleksi pesawat terbang layang senilai Rp6 miliar dan sebuah mobil audi mewah senilai Rp700 juta. Selain itu, dia telah menjual perabot interior dan aksesori bisnis, dari vas hingga bunga artifisial.

”Rencana saya adalah untuk tidak menyisakan apa pun. Tidak memiliki apa pun,” katanya kepada The Daily Telegraph pada awal pekan ini. “Uang itu kontraproduktif, uang menghalangi datangnya kebahagiaan.”

“Karl Rabeder”, Ia akan keluar dari rumah mewahnya itu, lalu menyepi ke sebuah pondok kayu kecil yang ciamik di pengunungan tersebut atau ke sebuah rumah sederhana di Innsbruck. Semua hasil penjualan hartanya akan menjadi modal untuk lembaga amal yang dia dirikan di Amerika Tengah dan Latin, tetapi ia tidak akan mengambil gaji dari situ.

“Lama saya meyakini bahwa dengan banyak kekayaan dan kemewahan berarti secara otomatis akan lebih membahagiakan,” katanya. “Saya berasal dari kerluarga yang sangat miskin, yang aturanya adalah bekerja lebih keras untuk mencapai hal-hal material yang lebih banyak dan saya melakukan hal itu bertahun-tahun,” kata Rabeder.

Namun, dia kemudian merasakan sesuatu yang lain, perasaan yang justru bertentangan dengan keyakinan awalnya. “Semakin sering saya mendengar kata-kata, ’Hentikan apa yang Anda lakukan sekarang, segala kemewahan dan konsumerisme ini, dan mulailah hidupmu yang sesungguhnya,’” katanya. “Saya merasa, saya bekerja laksana budak untuk hal-hal yang tidak saya ingin atau butuh. Saya kira bahwa ada banyak orang lain yang melakukan hal yang sama.”

Bagaimanapun, selama bertahun-tahun dia tidak cukup berani untuk menghentikan semua hal yang memerangkap kenyamanan eksistensinya. Akhirnya titik balik itu terjadi saat dia berada dalam liburan selama tiga minggu bersama istrinya di Kepulauan HAWAII.
“Itu merupakan guncangan terbesar dalam hidup saya ketika saya menyadari betapa mengerikan dan tanpa perasaannya kehidupan bintang lima itu,” katanya. “Dalam tiga minggu tersebut, kami menghabiskan semua uang yang mungkin dapat Anda belanjakan. Namun, dalam keseluruhan waktu itu, kami merasa bahwa kami tidak menemukan seorang pribadi yang nyata, semuanya aktor. Para staf memainkan peran untuk ramah dan para tamu memainkan peran sebagai orang penting dan tidak seorang pun nyata.”

Dia memiliki perasaan bersalah yang sama ketika melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan Afrika. “Saya semakin mendapatkan sensasi bahwa ada hubungan antara kekayaan kami dan kemiskinan mereka,” katanya. Tiba-tiba dia menyadari, “Jika saya tidak melakukan ini sekarang, saya tidak pernah melakukan hal ini dalam sisa hidup saya.”

Maka, Rabeder memutuskan untuk mengundi rumahnya di Alpine. Ia menjual sebanyak 21.999 tiket lotere, masing-masing hanya seharga 87 poundsterling. Rumah di Provence di Desa Cruis dijual oleh agen properti lokal. Seluruh kekayaan yang sangat diinginkannya pada masa kecil, disalurkan ke organisasi amal di Amerika Tengah dan Amerika Latin. Bahkan tidak ikut campur dalam pemanfaatan uang sumbangannya itu. Semua uang yang ia berikan itu disalurkan untuk usaha kredit mikro yang menawarkan pinjaman skala kecil kepada warga Amerika Latin dan membangun bantuan strategis untuk pemberdayaan diri orang-orang di El Salvador, Honduras, Bolivia, Peru, Argentina, dan Cile.

Seluruh kekayaan yang sangat diinginkannya pada masa kecil, disalurkan ke organisasi amal di Amerika Tengah dan Amerika Latin. Bahkan tidak ikut campur dalam pemanfaatan uang sumbangannya itu.

Sejak menjual hartanya, Rabeder mengatakan bahwa dirinya merasa bebas, tidak lagi merasa terbebani. Namun, dia mengatakan, ia tidak akan menghakimi orang kaya yang memilih untuk terus menumpuk kekayaan. “Saya tidak punya hak untuk memberikan nasihat bagi orang lain. Saya hanya mendengar suara hati saya.” Kisah sejati di atas telah banyak dikutip berbagai media massa, juga telah beredar di milis-milis, karena sangat menarik perhatian banyak orang.

Paradigma yang baru ditemukan oleh Karl Rabeder ini tentu bertolak belakang dengan paradigma duniawi yang biasa kita lihat. Namun inilah paradigma surgawi yang disampaikan Kristus. Inilah kebenaran itu. Rabeder telah menemukan apa itu kekayaan yang sejati, dia juga telah menemukan kebenaran yang sejati. Dan bukan hanya Rabeder, ternyata ada banyak orang kaya lainnya yang akhirnya juga melihat “dimana harta sejati itu berada”.

Jika semua orang yang diberi kesempatan oleh Tuhan membagi hartanya bagi banyak orang miskin yang membutuhkan, maka dunia ini akan seimbang dan penuh sukacita.

Dan mungkin juga Karl Rabeder, bukanlah seorang pengikut Yesus Kristus, tapi setidaknya ia telah melakukan apa yang Yesus perintahkan dalam Firman-NYA:

“Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21)

“… adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kisah Para Rasul 20:35)

Lalu, bagaimana dengan kita yang notabene adalah pengikut Kristus. Sudahkah kita melakukan perintah Firman-NYA ?🙂

TUHAN YESUS Mengasihi, Memberkati & Menyertai PELAKU FIRMAN semua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s